Jellyjuice Column

"A slice of thought with Indonesia topping and jellyjuice sauce, spicy yet releasing!"

Hello there! Welcome aboard..you will straightly feel my expression when you first read the post title. My column is all about my concern about Indonesia and its surrounding. It's all about expressing myself with writings. I hope you enjoy all the writings posted in my column - Yes, it might not cheers you up, but I can assure you that you will poisoned and addicted to my writings :).

In my freestyle writing, you will shortly found emotion, passion, and connection with them. Please don't blame me if you experienced these. So, please join me to make writing as a mean for communication, meditation and energy channel for positivity. A way to find peace and harmony a-la Jellyjuice. So, if you have comments to write on please feel free to do so, flower or chocolate milk are also welcome :). Thanks for stopping by, please leave your blog's url so i can visit you back :). All and all, never stop expressing yourself to the world with writing !

Umihanik a.k.a Jellyjuice

| My mother drew a distinction between achievement and success. She said that achievement is the knowledge that you have studied and worked hard and done the best that is in you. Success is being praised by others. That is nice but not as important or satisfying. Always aim for achievement and later on success | Me on Facebook | Follow @umihanik_ME on Twitter| Me on Linkedin | Keep in touch with me? Read my daily notes^ | For detail profile, please download My CV here


Chat Corner

Name :
Web URL :
Message :
:) :( :D :p :(( :)) :x

Paper Collections

  • M&E PHLN antara teori kebijakan dan praktik
  • MRV of the NAMAs
  • Performance Budgeting and M&E
  • M&E Penyelamat Instansi Pemerintah
  • M&E dan Pemanfaatan PHLN
  • Subsidi Minyak Goreng
  • Stimulus Fiskal 2009
  • Ekspor & Pembiayaan
  • Energi & APBN 2008
  • APBN, Investasi, Tabungan
  • Pembangunan Perdesaan
  • Banjir, Infrastruktur, Pangan
  • Ekonomi 2008
  • Catatan RUU APBN 2009
  • Pelaksanaan APBN 2006
  • Penanganan Krisis 2008
  • Reformasi Perpajakan
  • Ekonomi 2003
  • Pangan dan Inflasi
  • Krisis Global dan Pangan
  • Krisis, Ekspor, Pembiayaan
  • M&E Alignment, Aid Effectiveness
  • Postur RAPBN 2009
  • Pangan & Problematikanya
  • Kebijakan M&E Pinjaman Luar Negeri
  • Pertanian & Kedelai
  • Masalah Ketenagakerjaan
  • Subsidi BBM


  • Also available at :
  • umihanik@docstoc.com
  • umihanik@slideshare.net
  • Virtual Mate

  • Dadang
  • Finding : Hani
  • Mpud Ndredet
  • Tiara
  • Taman Suropati
  • Muhyiddin
  • Ponakan
  • Birokrat Gaul
  • Fahmi Oyi
  • Asal Njeplak
  • Bastomi
  • Cak Lul
  • Ery Ecpose
  • Berly
  • Robby
  • Pak Zuki
  • Previous Post

    Credit

    My Engine : Blogger
    My Campus : Google State University
    My Virtual Family : Blogfam
    Al-Hidayah : Free Education for All




    online



    Thursday, May 23, 2019

    Pemilu 2019: Ujian pendewasaan demokrasi di Indonesia?

    Sekedar coretan untuk refleksi bersama🙏🏽: Di post-truth era, sulit sekali pahami kompleksitas ‘truth’ & ‘falsehood', bedakan mana berita bohong dan mana fakta. Karena mencari kebenaran perlu skeptis, tanpa harus sinis; perlu berpikir terbuka tapi berpendirian; punya kemampuan mencerna serta memilah, dan mau mencari referensi pembanding; menolak dogma2 dan terus melatih akal sehat. Melawan hoax memerlukan kerja keras.

    Hoax adalah produk dari tehnik firehose of falsehood, atau tehnik semburan dusta yang dikembangkan oleh KGB dan digunakan Vladimir Putin ketika Rusia menganeksasi Crimea. Donald Trump gunakan tehnik ini dan menangkan pemilu Amerika Serikat pada 2016. Di Indonesia, kedua kubu diduga sama kuat sebagai produsen hoax yang kemudian berhasil menembus dan membalikkan pola pikir masyarakat modern/liberal menjadi konservatif. Menariknya, semburan dusta secara teori ternyata berguna untuk menanamkan nilai2 konservatisme yang mengancam masa depan demokrasi, seperti dijelaskan dlm artikel Ahmad Firdaus https://ahmadmfirdaus.com/2018/10/05/kasus-ratna-sarumpaet-dan-teknik-firehose-of-falsehood/. Cuman artikel ini menterjemahkan konservatisme secara terbatas menjadi kesukaan pada karakter pemimpin yang tegas, kuat, berwibawa, merujuk pada figur Prabowo. 

    Sementara definisi konservatisme lebih luas, yakni sebuah filsafat politik yang mendukung nilai2 tradisional, conservāre, sebagai usaha untuk lestarikan status quo, atau berusaha kembali kepada nilai2 dari zaman yang lampau, the status quo ante. Roger Scruton menyebut konservatisme sebagai “politik penundaan, yang tujuannya adalah mempertahankan, selama mungkin, keberlangsungan suatu organisme sosial". Artinya, konteks semburan dusta ini ditujukan untuk membungkam lawan politik demi melanggengkan kekuasaan. Para pekerja ham, pegiat pembangunan inklusif, dkk yang berpikiran modern/liberal juga menjadi korban semburan dusta karena mendiamkan bahkan mendukung penangkapan oposisi, pembubaran ormas, pembatasan akses social media, pemberangusan kemerdekaan berpendapat terutama dari kelompok Islam garis keras, dengan berbagai alasan.

    Kesewenangan penguasa yang didukung masyarakat ini lantas dimanfaatkan oposisi untuk mendulang simpati dengan memainkan isu agama yang kemudian dibeli inkumben. Maka jangan heran jika kelompok Islam garis keras yang anti perbedaan ini kemudian justru yang banyak mengkampanyekan jargon2 penghargaan HAM, entah karena kelompok tsb mulai mengakui human rights atau karena semata hak yang terberangus. Lalu kelompok yang tadinya menthogutkan pemilu, sekarang berbondong2 berpartisipasi dalam politik dengan mendatangi tps2 untuk gunakan hak pilihnya. Apakah ini dilatari semata oleh ketidakadilan politik yang dialami untuk perjuangan elektoral, atau perjuangan konstitusional bagi terbentuknya khilafah, atau memang mulai membuka diri. Perlakuan sewenang2 untuk kelompok ini melahirkan simpati elektoral dari kelompok Islam modern juga. 

    Fakta ini menguatkan teori semburan dusta dan kebangkitan konservativisme tadi.
    Tehnik Ini khas memprovokasi masyarakat dengan membangkitkan semangat primordialisme, kesukuan, keagamaan, dll untuk membangun supremasi mayoritas. Tapi untuk kasus pilpres ini unik, karena kedua kubu sesungguhnya memainkan isu yang sama sehingga menghasilkan suara yang hampir sama tapi menggerus suara inkumben karena isu2 strategis dan penting lainnya tenggelam. Inkumben harusnya bisa menang mutlak jika mampu mengkomunikasikan program2 dan capaiannya, karena inkumben mewakili karakter mayoritas: Jawa, Islam. Juga punya karakter untuk cenderung disukai: sopan santun, egaliter, bonus inkumben, latar belakang relatif bersih, ditambah wapres ulama besar NU.

    Tapi kemampuan komunikasi yang buruk, preferensi menempuh jalur represif terhadap kubu oposisi terutama untuk kelompok Islam garis keras, plus provokasi melalui semburan dusta dari kelompok Kristen garis keras yang berafiliasi dengan partai utama pendukung Jokowi, diperparah dengan semburan dusta dari lawan politik menyisakan situasi sekarang ini. Polarisasi massa dan kebencian mendalam terhadap figur Jokowi (dan Prabowo). Sementara tim dibelakang Jokowi sibuk dengan interest pribadi, jadi agen dan kapal keruk untuk kepentingan pemilik modal besar & keluarkan kebijakan2 yang tidak pro rakyat/ terkesan gak sinkron/kompak, paling banter menangkis hoax dengan hoax baru tanpa berbuat sesuatu yang lebih bermakna. Tim dibelakang Jokowi yang gagal menggarap ruang komunikasi massa ini memperparah antipati terhadap Jokowi. Hoax terparah adalah Jokowi anti Islam yang itu dipercaya oleh masyarakat luas.

    Secara umum banyak yang kita bisa pelajari bersama dari buruknya pemilu kali ini. Namun yang pasti, banyak dari kita yang lantang teriak "menolak lupa", tapi faktanya lupa menolak karena berbagai keterpepetan. Kalo kata Haris Azhar ex KontraS "ingat Luka masa lalu tapi LUPA menolak pelaku lama". Pelaku lama berulah dan cerita kesuraman berulang lagi. Masyarakat juga masih belum mentas dari imaji stabilitas ala ORBA semodern APA pemikiran mereka. Meme yang luas beredar tentang romantisasi polisi dan menegasikan fakta bahwa anak-anak jadi korban penanganan aksi yang berakhir represif menggambarkan imaji publik tentang definisi stabilitas ala ORBA. Masyarakat sipil mendiamkan, mendukung, bahkan membully yang mengungkap fakta bahwa ada korban anak-anak, petugas medis, dll. Kelompok ini berprilaku demikian karena kebencian mendalam kepada kelompok Islam garis keras sebagai salah satu pendukung kubu Prabowo. 

    Pembungkaman, penangkapan, hingga pembubaran kelompok tersebut tanpa proses yang dianggap adil dianggap sebagai hukuman atas prilaku mereka yang anti perbedaan. Islam menjadi komoditi kedua kubu dengan semburan-semburan dusta untuk kepentingan elektoral. Kelompok masyarakat modern/liberal (sekuler) berprilaku konservatif dalam mendefiniskan hukuman bagi kelompok oposisi ini. Indikasi konservatisme yang kembali DIGANDRUNGI oleh masyarakat adalah by design. Mengapa? Manusia tak bisa meninggalkan natural bias-nya ketika dibangkitkan pada isu identitas. Mendukung Jokowi artinya anti Islam, mendukung Prabowo artinya mendukung khilafah. Ini adalah fakta yang tak terelakkan. Langkah kecil menuju otoritarianisme dan langkah MUNDUR dalam upaya membangun demokrasi yang lebih berkualitas.

    Read more!

    Wednesday, October 03, 2018

    Theory and Results - based Monitoring & Evaluation for the National Integrated Services and Referral (IRS) System for Social Protection and Poverty Reduction Programs in Indonesia

    Presented at the Asia Pacific Evaluation Association (APEA) International Evaluation Conference 2016 in Hanoi, Vietnam, 21-25 November 2016

    Co-author. abdurrahman.syebubakar@mahkota.or.id

    More than 27 million Indonesians (10.96% of the population) continue to live below the poverty line and 30% of the population within 125% of the poverty line remain vulnerable to falling back into poverty. The Government of Indonesia is committed to lower the poverty rate from 10.96% in 2014 to 7-8% by 2019. In mid 2016, the Ministry of Social Affairs (MoSA) is implementing an Integrated Referral and Service System (IRS) for social protection and poverty reduction programs to “Increase effectiveness and efficiency of social protection system towards reduced poverty and inequality”. IRS will target the roll-out starting from 2016 to 2019 into 150 district/city locations throughout Indonesia.

    Having the above impact, the importance and relevance of identifying, measuring, and quantify/qualifying performance and results of IRS/SLRT in Indonesia is becoming high. IRS use two approaches for monitoring and evaluation (M&E), they are the theory based and results based M&E system to measure the model’s impact and the overall performance. Comprehensive and rigorous M&E framework is expected to provide comprehensive information and recommendations on activities, processes, output, outcome, and impact as part of the basis for improving on-going and post activity implementation and preparing for the next roll-out phase. The M&E will explore needs and gaps in social protection of poor and vulnerable people including abandoned women and children, disabled persons, elderly poor with no social assistance and others.


    The paper explores the IRS profile, intervention, and theory of change, as well as the M&E framework, questions, and design. 

    For full paper contact umi.hanik@yahoo.com

    Read more!

    Saturday, December 26, 2015

    Perempuan, perlawanan, dan evaluasi

    2015 adalah tahun yang sangat dinamis dan menantang, terutama mengatasi ketakutan dari dalam diri sendiri dan rasionalitas ketika dari awal tahun melakukan perlawanan terbuka dan berhadap-hadapan langsung hingga gerilya melawan pengembang dan kaki-kaki tangannya dari berbagai unsur (oknum warga sendiri, petugas keamanan yang harusnya melindungi warga, preman bayaran, oknum polisi, oknum pemerintahan DKI dan Kementerian, dll). Pula menyemangati diri dan juga kawan-kawan warga seperjuangan lainnya bahwa perubahan mungkin dilakukan, bahwa kesewenang-wenangan pasti bisa dikalahkan oleh warga yang bersatu padu melawan. Melawan segala bentuk intimidasi langsung maupun tidak, hingga ancaman kriminalisasi hukum.

    Di tiga perempat 2015 di tengah kelelahan teman-teman dan angin sepoi-sepoi dari Pemprov DKI yang membiarkan segala bentuk kesewenangan terjadi di KalibataCity, saya juga hampir menyerah dan hampir percaya perlawanan yang kami lakukan layaknya meninju angin. Indikasi dari balai kota yang meminta kami berdamai dengan maling di rumah kami sendiri, juga menimbulkan kegalauan tersendiri. Belum lagi kesibukan masing-masing warga dengan pekerjaan dan rutinitas lainnya. Perbedaan pendapat yang membuat soliditas tim juga diuji. 

    Hingga di penghujung 2015 bertemu dengan kawan-kawan evaluator dari belahan dunia lain, terutama mereka dari belahan bumi Afrika dan Timur Tengah seperti Somalia, Afganistan, Irak. Mereka - tentu dengan tantangan yang berbeda dan lebih berat - percaya bahwa dengan bersama-sama, kita bisa membuat perubahan yang kita maui dan inginkan di bumi ini. Lalu dengan partisipatif kita berhasil menyusun beberapa agenda global dengan target-target utama al: 1) EvalSDGs yakni evaluasi untuk mendorong pembangunan berkelanjutan melalui 16 bidang pembangunan untuk penurunan angka kemiskinan, ketimpangan, dan kerentanan; 2) EvalYouth yakni evaluasi yang mendorong peran dan memberikan ruang yang cukup bagi para evaluator muda sebagai agent of change untuk beraktualisasi; 3) EvalGender yakni evaluasi yang mendorong kesetaraan gender dan keberpihakan kepada perempuan dan kelompok yang rentan; dan target penting lainnya yang akan diwujudkan bersama-sama di masing-masing negara. 

    Saya senang sekali mendapat kesempatan yang setara dengan evaluator kelas dunia lainnya bergabung dalam working group yang sama untuk diskusi, berbagi pengalaman dan menyusun agenda bersama-sama. Perubahan sangat mungkin dilakukan (bersama-sama). Kita bisa merubah bumi yang kita pijak sesuai keinginan kita. Pertanyaannya, mau berubah atau tidak?

    Yang membuat lebih istimewa dari pertemuan tersebut adalah sang tuan rumah. Acara diselenggarakan di Kathmandu, Nepal, negeri seribu kuil. Negara ini termasuk salah satu negara berkembang yang kehidupan ekonominya jauh di bawah Indonesia, namun di forum-forum internasional mereka sangat aktif dan percaya diri. Ini adalah kunjungan saya kedua, bedanya Nepal baru saja dihantam gempa bumi yang dasyat hingga memakan ribuan korban meninggal dunia. Kuil-kuil utama yang jadi pusat turisme mereka banyak yang roboh dan rusak. Juga area pegunungan yang jadi pusat wisata harus ditutup. Selain itu mereka juga sedang mengalami krisis BBM, harga-harga melonjak hingga 400%. Dari kesemua ujian dan derita di atas, yang istimewa adalah daya tahan dan recovery mereka nampak sangat tinggi, optimisme terlihat di wajah-wajah yang saya temui, baik para relawan panitia penyelenggara, pegawai-pegawai hotel, pedagang-pedagang yang berjualan di sepanjang Pasar Thomel, tukang becak yang saya pakai jasanya. Wajah-wajah dengan senyum optimis dan ramah, plus sapaan khas "namaste" dengan melipat tangan dan menundukkan kepala sebagai ucapan salam sekaligus doa untuk siapapun yang ditemui.

    Di tahun ini, genap 9 tahun saya menekuni profesi sebagai evaluator secara konsisten. Banyak tantangan, namun kesemuanya sangat positif dan konstruktif bagi saya pribadi khususnya untuk dapat melihat persoalan pembangunan lebih dekat, bahkan sangat dekat dengan penerima manfaat program langsung hingga saya terkena TBC di lokasi penelitian. Kapok? Menyesal? Tidak, saya terima saja kenyataan pahit ketika dr Usman dari MMC membacakan hasil-hasil test dan diagnosanya pada pertengahan 2015 lalu sebagai resiko pekerjaan. Tak ragu-ragu untuk mau mengkoreksi sekaligus belajar dari kesalahan dan menyesuaikan rencana-rencana. Melalui profesi ini, mau tak mau juga jadi media belajar untuk terus menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan yang pasti, percaya dengan state of mind. 

    Evaluasi pembangunan, seringkali "diplintir" atau disempitkan maknanya hanya sebagai kegiatan penelitian atau review. Atau yang lebih keren sedikit tapi maknanya tetap sempit, disamakan dengan audit. Sebuah intervensi pembangunan bisa dihentikan total, sebagian, atau penyesuaian terbatas di level intervensi tertentu jika evaluasi benar-benar menjadi konsideran pelaku pembangunan. Selain soal penyakit tadi, resiko pekerjaan lainnya yang diterima evaluator juga tidak main-main jika temuan-temuan atau hasil evaluasinya tidak menggembirakan alias banyak negative findings. Mulai dari mempertanyakan desain, metodologi, bias evaluator, hingga melecehkan kapasitas evaluator. Sejauh ini sebagai evaluator, semuanya sudah pernah saya terima. 

    Menjadi bagian dari barisan terdepan sebuah aksi perlawanan dan kegiatan evaluasi terutama program-program besar menjadi demikian politis karena berhadap-hadapan dengan kepentingan raksasa. Keduanya adalah dunia yang berbeda mungkin namun sama-sama membutuhkan keberanian untuk menjalaninya secara total. Dalam aksi perlawanan, dibutuhkan keberanian untuk menyuarakan hak-hak warga yang diinjak dengan sewenang-wenang dan menyuarakan tuntutan perubahan yang diinginkan. Untuk evaluasi, dibutuhkan keberanian untuk menyuarakan apakah program yang dijalankan sudah cukup efektif, efisien, relevan, memberikan dampak, dan berkelanjutan (harusnya ditambahin satu kriteria lagi "equity")? Atau gagal di lima kriteria tadi?

    Keberanian identik dengan laki-laki. Mungkin saya salah. Keberanian yang saya punya bukan muncul dari lahir, tapi proses evolusi. Jujur, meski orang melihat saya lebih banyak nekatnya, sebenarnya saya banyak berhitung. Keberanian sifatnya menular, jika dalam kelompok aksi perlawanan yang sama, individu-individu yang ada di garis depan menunjukkan keberaniannya, hitungan saya, pasti yang lainnya ikut berani melawan secara terbuka. Ini saya juga belajar berani dari warga seperjuangan lainnya, atau istilah kerennya peer pressure. Ibaratnya perang, jika kita mampu menunjukkan keberanian kita, secara psikologis kita sudah menang satu langkah dan membuat pihak lawan keder dan tidak main-main menghadapi kita. Sebaliknya, satu saja celah kelemahan dan ragu-ragu, habislah kita. 

    Ujicoba peer pressure ini membuahkan partisipasi yang luar biasa besar utamanya dari perempuan, para ibu yang merasakan dampak langsung kesewenang-wenangan pengembang di lingkungan kami. Perempuan dalam kamus pembangunan manusia merupakan subyek penting tapi ironisnya justru paling rentan dan banyak mengalami ketidakadilan. Jadi, be brave, speak up, and fight! 

    Well, selamat tinggal 2015, tahun yang cukup BERANI dan sarat dengan momentum pembelajaran yang tidak akan pernah saya lupakan.

    Read more!

    Friday, August 28, 2015

    Cerita di Balik Semangat Perlawanan

    "Kau terpelajar, bersetialah pada kata hati" Pramoedya lagi-lagi mengingatkan dengan kata-katanya yang tajam mematri indra kita. Kata hati, kenapa kita harus percaya? apa iya kata hati selalu benar? bagaimana jika salah? kepada siapa lagi kita percaya? Apa jadinya jika kita terlalu percaya kepada kata hati, mengabaikan nalar dan pertanyaan-pertanyaan logis di atas? Sederet pertanyaan yang bergelut di kepala saya menyangsikan realibilitas si 'kata hati'. 

    Menjadi salah satu warga rusun yang berdiri di barisan depan melakukan perlawanan terhadap pengembang besar macam Agung Podomoro tentu tidak pernah masuk dalam rencana hidup saya. Saya yang waktu itu masih 'waras' (sekitar tahun 2012) sangat percaya diri bisa ikut sumbangsih mengurai benang kusut persoalan rusun dan menyelesaikannya. Apalagi banyak warga lain yang aktif punya kemampuan teknis dan semangat yang sama. Tapi rupanya kemampuan teknis saja tidak cukup, dibutuhkan kesabaran yang sangat tinggi dan kesamaan cita-cita/visi dari sesama warga yang berjuang untuk secara konsisten melawan hingga semua tuntutan dapat dipenuhi. Nah dari sini, kata hati saya mulai mengambil alih dan bertindak melebihi rasio alias 'kewarasan' saya menjadi energi dan semangat perlawanan yang luar biasa besar.

    Perlawanan terhadap pengembang sesungguhnya tidaklah berat, asal warga bersatu, semua rintangan dan hambatan dari pengembang bisa dilewati dengan mudah. Nyatanya tidak seindah asumsi saya yang linier tersebut. Lawan dari dalam warga sendirilah yang menyita energi dan kesabaran untuk proses konsolidasi warga. Perjuangan melawan para oportunis dan warga yang apatis, masih bisa dikejar dengan edukasi dan advokasi yang masif. Tapi hingga saat ini belum ketemu obat penangkal musuh dalam selimut atau yang diam-diam masuk angin. Peer pressure juga tidak ngaruh. Kedua faktor tersebut paling besar dampaknya terhadap kegagalan perjuangan warga dari tahun ke tahun, warga yang digerogoti atau diracuni dari dalam, dipecah belah dan diadu domba.

    Perjuangan warga yang sangat membuka diri terhadap relawan-relawan baru sangat rentan dimanfaatkan oleh para free rider dan rent seeker. Selama kurun waktu 2012-2015 aktif bersama-sama warga, sedih juga warga yang kita anggap sebagai kawan seperjuangan dan kita percaya untuk menjadi pemimpin kita diam-diam masuk angin dengan berbagai alasan. Kalopun tidak masuk angin, pecah karena silang pendapat. Hubungan antar warga yang hancur karena provokasi, adu domba, dan emosi selama proses.

    Dalam periode tersebut, tentu masih ada beberapa warga yang konsisten dan masih senafas, meskipun definisi konsisten disini sangat beragam. Diantara mereka kemudian menjadi teman. Bahkan saya sendiri merasa ada satu teman yang menurut saya istimewa karena usahanya dahulu mengumpulkan warga tepatnya Maret 2012. Dia sang inisiator. Kemudian seiring mengenalnya lebih dekat, saya merasa nyaman dan jadi terlalu percaya dengan pemikiran-pemikirannya walau kadang terlalu provokatif. 

    Saya kehilangan dia sekarang akibat insiden yang membuat saya merasa terpukul berat dan perasaan kecewa karena dikhianati oleh dia. Insiden tersebut juga membuat saya membabi buta dengan pikiran dan pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kepala saya "siapa kamu sebenarnya?", "kamu kaki tangan pengembang, sejak kapan?", "apa motif kamu?", "dibayar berapa?". 

    Tidak berhenti disitu, saya juga beranalisis dan menyimpulkan kalo dia 'biang kerok perpecahan warga dan otak kegagalan perjuangan warga sejak awal'. Saya sadar, masuk angin adalah hal biasa dalam sebuah perjuangan, tapi saya tidak rela dia 'masuk angin' dan pergi meninggalkan saya. "Kamu tidak boleh masuk angin" dan meluncurlah pertanyaan dan kata-kata pedas dan menyakitkan untuknya yang saya sesalkan hingga hari ini.

    Di titik ini saya bingung, antara kata hati dan rasionalitas. Yang pasti saya tidak sanggup kehilangan dia. Benar bahwa kita tidak tahu dia berharga sampai kita kehilangan dia. Saya sudah berusaha jujur tapi saya juga takut salah bicara dan makin menyakiti dia jika ternyata tidak benar. Membaca lembar kronologis perjuangan warga yang dia tulis, makin membuat saya menderita. 

    "Kamu harus kembali bersama-sama memimpin di garis depan, yakin kita menang!" "Kemenangan tidak akan ada artinya tanpa kamu. Kemenangan ini milik kita bersama, hasil kerja keras, air mata, dan keringat kita"

    Read more!

    Get awesome blog templates like this one from BlogSkins.com Get awesome blog templates like this one from BlogSkins.com