Ramadhan, (Harusnya) Lebih Banyak Diam?
Dalam penerbangan menuju Banda Aceh siang tadi, saya membaca salah satu kolom Pak Komaruddin Hidayat di Majalah Garuda edisi Agustus. Judulnya singkat, Ramadhan milik siapa. Cukup menarik dan menggugah.Setelah tiba di hotel, sempat menonton tv dan memang iklan-iklan di televisi mensyaratkan bahwa Ramadhan telah akan tiba. Pernik-pernik ramadhan sudah mulai terasa. Saya bersama rekan dari Diknas yang menyempatkan untuk makan malam mie aceh kepiting dekat hotel barusan juga merasakan nuansa yang agak lain. Biasanya orang Aceh suka nongkrong di warung-warung kopi dari pagi hingga ketemu pagi lagi, tapi hingga jarum jam menunjuk di angka sembilan kok sepi-sepi aja. Ini bukan pertama kalinya saya ke Aceh jadi memang terasa bedanya.
Benar dan tak terasa dalam hitungan hari kita akan memasuki bulan suci Ramadhan. Tak terasa karena sibuk dengan urusan dunia. Tak terasa pula karena spiritualitas baru pada aspek ritualitas, baru pada tahap simbolisasi.
Komaruddin dalam catatannya menyebutkan jika Ramadhan identik dengan pertobatan, rehabilitasi, dan pengembangan kepribadian menjadi pribadi yang selalu ingin memberi dan bukan sebaliknya.
Mungkin tidak jauh dari pemaknaan Komaruddin, bagi saya ramadhan adalah waktunya diam. Diam dari hingar bingar dunia. Diam untuk bertuma’ninah. Diam untuk mengisi-ulang nilai-nilai yang hilang. Diam untuk menghindari dosa-dosa yang lebih besar. Diam untuk melumaskan hati dan segenap indra yang berkerak dan berkarat. Dan diam untuk melihat dunia tidak dengan mata tapi dengan hati. Melihat masalah dan merumuskan solusi dengan hati.
Suara hati adalah suara Tuhan. Buka dan perdengarkan hatimu. Demikian rekan saya di Bappeda yang baru saya kunjungi minggu lalu menyimpulkan dalam satu obrolan.

<< Home