AishiterU"Menunggu sesuatu yang sangat menyebalkan bagiku. Saat ku harus bersabar dan trus bersabar, Menantikan kehadiran dirimu. Entah sampai kapan aku harus menunggu...sesuatu yang sangat sulit tuk kujalani, hidup dalam kesendirian sepi tanpamu, kadang kuberpikir cari penggantimu, saat kau jauh disana..."
Tak sengaja fm radio yang tengah saya simak memperdengarkan irama dan nada lagu yang sering dinyanyikan keponakan saya yang baru kelas 1 SD itu kemarin saat dalam perjalanan menuju stasiun Gambir untuk mengantar ibu saya pulang ke Malang. Lirik awalnya cukup menggugah dan mengundang komentar. Yang membawakan band baru-tak begitu dikenal namanya, tapi judul lagunya yang banyak diingat, ya AISHITERU.
Beberapa bulan yang lalu dalam satu obrolan dengan temen-temen Sinergi - kebetulan ada yang empat tahun menghabiskan master mesinnya di Osaka - aishiteru dimaknai sebagai ungkapan perasaan suka yang mendalam tapi masih ragu. Rekan yang lain mengomentari, "Oh, maksudnya digantung.. wah nggak enak banget tuh lagu", haha..menggelegarlah tawa yang saat itu mendengar komentarnya.
Penasaran, dari wikianswers saya mendapat definisi pembanding bahwa "Aishiteru" means "I love you" in Japanese, but it's only really used unless you're absolutely serious about the relationship. If you're not sure whether you are dedicated yet, you can say "Daisuki" instead, which means "I really like you". It's more relaxed, for example, if you're just starting a relationship with someone.
Hmm...saya mendadak jadi merasa kalo makna dan lirik aishiteru ini pas juga untuk menggambarkan kondisi pemerintahan yang sedang kita hadapi sekarang. Liriknya lebih menyindir dan kena dibanding "seandainya aku jadi Gayus".
Mesin birokrasi yang merasa bekerja tanpa masinis. Rakyat yang merasa tidak diperhatikan. Hukum berjalan asal dan seenaknya yang semuanya bermuara pada keraguan akan kecintaan sang masinis pada mesin birokrasinya juga sebagai pemimpin pada rakyatnya. Dan benar, semuanya (merasa) digantung (untuk tidak menyebut sebagai absennya kepemimpinan).
Patut diacungi jempol untuk kecintaan sang mesin dan rakyat hingga rela dan setia menunggu ragu itu menjadi keyakinan dan mengimbangi dengan derajat kecintaan yang sama. Lantas pertanyaannya menjadi sama dengan lirik lagu aishiteru yang mengantar tulisan ini, untuk berapa lama... karena ternyata menunggu itu menyebalkan...
Segelintir pemuka agama kondang nekat berteriak "kamu bohong" karena merasa dibohongi, cintanya dikhianati atau cintanya tak berbalas, dan sialnya yang merasa dibohongi juga banyak :). Kemunculan 100 tokoh lainnya yang ikutan berteriak senada menjadi indikasi jika sebagian sudah mulai lelah menunggu. Akankah menyusul sekian juta lainnya ? Bisa ya atau tidak, mungkin masih banyak juga yang berharap layaknya lirik penutup aishiteru "Lupakan segala obsesi dan ambisimu, akhiri semuanya cukup sampai disini, dan buktikan pengorbanan cintamu untukku, kumohon kau kembali..."
Pak, kalo masih tidak yakin mohon jangan bilang "aishiteru" tapi lebih aman "daisuki" biar nggak dicap pembohong, masa iya pemerintahan legitimate tapi diteriakin 'pembohong', apa kata dunia... :).

<< Home