Inspirasi, Ku Kejar-Kau Lari...Anis Baswedan dalam novel biografi Iwan Setiawan bertajuk "9 Summers 10 Autumns: Dari Kota Apel ke The Big Apple" menggoreskan catatannya "Bapaknya supir angkot tinggal di Gang Buntu Kota Apel Batu, anaknya kemudian jadi Direktur AC Nielsen US berkantor di the Big Apple New York. Kisah Iwan adalah bukti nyata tentang efek pendidikan karena itu berikanlah akses pendidikan berkualitas pada setiap anak Indonesia. Tidak peduli anak miskin atau kaya, anak kota atau desa karena keterdidikan mereka akan membawa Indonesia menuju cita-citanya"
Kisah Iwan ini menyusuli kisah-kisah inspiratif sebelumnya Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, dan Negeri Lima Menara. Meski disajikan dalam plot yang tidak mudah dan kurang mengalir, pesan yang coba disampaikan Iwan cukup besar. Benar bahwa kita tidak bisa memilih masa kecil kita, artinya betapapun sulitnya hidup, tekanan keadaan, himpitan ekonomi, dengan kerja keras dan perjuangan yang tak kenal lelah semuanya bisa kita lalui, bahkan pencapaian yang kita dapatkan akan jauh dari yang kita impikan sebelumnya.
Karena sama-sama wong mBatu, sudut-sudut yang disajikan Iwan dalam bukunya begitu akrab. Meski tak seterjal perjalanan Iwan, dalam melihat dan menapaki dunia, kurang lebih saya juga memiliki kesamaan dengan dia. Termasuk ketika menjalani masa sekolah di Batu juga saat merajut mimpi di sepanjang Jalan Sudirman Jakarta. Bersekolah di SMP dan SMA yang sama dengan Iwan (senior saya, angkatan 94/95), meninggalkan Batu dengan segenggam asa untuk kembali dan memberikan sesuatu untuk Batu. Kerja keras, perjuangan tanpa kenal lelah kuncinya. Ikhtiar dan istiqomah...
Maraknya success story yang dibukukan ini, belakangan membuat saya jadi berpikir. Tentu kita menulis karena ingin memberikan inspirasi serta dampak nyata dan bukan hanya sekedar membuat orang membaca tulisan kita lantas berhenti dan tidak melakukan apapun. Apalagi untuk target utama pembaca anak-anak, tantangannya menjadi dobel. Pertama, bagaimana membuat mereka mau membaca; kedua, bagaimana memberikan inspirasi bagi mereka melalui tulisan yang mereka baca.
Kalo boleh tau, berapa sih usia rata-rata orang mulai membaca novel ? usia SMP, SMA, kuliah? atau usia pensiun? Harus diakui, banyak juga yang kurang menyukai novel - termasuk saya - apalagi jika melihat ketebalannya, saya mungkin akan mual duluan. Sementara jika membaca catatan Anies di atas, kita berharap inspirasi ini dibaca dan menular ke sebanyak-banyaknya orang, hingga Indonesia akan mampu mencapai cita-citanya.
Untuk memberikan inspirasi dan dampak luas, lantas kenapa tidak anak-anak disasar?
Tentu tidak ada kata terlambat untuk belajar, namun memulai dari usia anak-anak untuk menyenangi bacaan-bacaan inspiratif akan memberikan dampak yang jauh lebih besar, karena banyak waktu untuk anak-anak tersebut bersiap diri, mengejar mimpinya, dan mencapainya. Semakin awal mereka mengenal inspirasinya, cita-cita tinggi bukan lagi menjadi tidak mungkin.
Khayalan saya adalah Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Negeri Lima Menara, dan novel Iwan ini di cetak pula dalam bentuk komik layaknya Kapten Tsubasa atau Slam Dunk bikinan Jepang yang menginspirasi jutaan anak-anak Jepang untuk menjadi pemain bola dan pebasket nasional yang tangguh dan tak terkalahkan. Hasilnya luar biasa, talenta-talenta pemain basket dan bola usia dini tidak sulit untuk mereka dapatkan dan tidak perlu repot-repot harus melakukan naturalisasi. Ayo Indonesia bisa !!
<< Home