Alkisah setelah penobatan Raja Nufsibaal dari Byblus, ia, raja itu, pergi istirahat ke kamarnya - kamar yang dibangun oleh tiga orang pertapa dari gunung untuknya. Ia melepaskan mahkota dan jubah rajanya, dan berdiri di tengah kamar memikirkan dirinya yang sekarang menjadi penguasa yang paling kuat di Byblus.
Tiba-tiba ia berpaling; dan melihat seorang lelaki polos keluar dari kaca perak pemberian ibunya. Raja terkejut, dan berteriak pada laki-laki itu, "Siapa kau?". Laki-laki polos itu menjawab, "Hanyalah aku; mengapa mereka menobatkanmu menjadi raja?". Raja menjawab, "Karena aku manusia paling mulia di negeri ini."
Laki-laki polos itu berkata, "Bila engkau mulia tentu engkau tidak akan menjadi raja." Dan raja berkata, "Karena aku manusia paling kuat di negeri ini, itulah mengapa mereka menobatkanku."
Lelaki itu kemudian berkata, "Bila engkau kuat, tentunya engkau tidak menjadi jadi raja." Kemudian raja berkata, "Karena aku orang yang paling bijak. Itulah mengapa mereka menobatkanku menjadi raja." Dan laki-laki polos itu lagi-lagi berkata, "Bila engkau bijak tentu engkau tidak akan dipilih menjadi raja."
Kemudian raja tersimpuh ke lantai dan menangis dengan pedihnya. Lelaki itu memandanginya. Ia mengambil mahkota dan dengan lembut diletakkan di atas kepala sang raja. Lelaki itu memandang penuh cinta pada raja lalu masuk kembali ke dalam cermin. Kemudian sang raja bangkit, ditatapnya cermin itu lekat-lekat. Yang terlihat hanyalah dirinya yang dimahkotai.
Dikutip penuh dari Kahlil Gibran "Diri yang Agung": Cinta, Keindahan, dan Kesunyian (1998, p.5) dan dipersembahkan untuk saya pribadi juga dunia yang tengah bingung dengan definisi pemimpin, presiden, dan sejenisnya... :)
<< Home