Beberapa bulan ini, seluruh penginderaan kita dibombardir dengan suara, gambar, aroma tak sedap yang datang dari seluruh penjuru negeri. Saya sudah berusaha menutup mata, kuping, dan hidung, tapi tembus juga. Kasus Century, korupsi, kekerasan - mulai dari tawuran pelajar, mahasiswa, rumah tangga sampai terorisme – pengemplangan dan makelar pajak, longsor, banjir besar di Jawa Barat dan Batanghari. Pemerintah yang legitimate tapi tak lagi punya wibawa. Anggota DPR yang kegenitan. Pengurus partai ramai berantem lewat media. Para perwira tinggi kepolisian saling unjuk kebolehan dengan berbalas gelar konferensi pers. Semua media kompak mengangkat tema yang sama. Mempertontonkan arogansi dan raut tak bersahabat sebagai ‘potret Indonesia’ yang saya tak yakin sepenuhnya, apa iya Indonesia tampak seburuk itu dan tak menampakkan ada masa depan?
Nampaknya musyawarah, mekanisme penyelesaian internal-dialog, dan silaturrahmi sudah nggak jaman lagi, hingga penyelesaian melalui media sekarang lebih banyak dipilih? Sekalian dapat nilai tambah ngetop? Mungkin saja, kenapa tidak? Wajah ‘seleb’ baru berbagai type datang silih berganti mewarnai layar tv kita. Tak ada kabar gembira dan prestasi membanggakan. Kering Informasi alternatif dan tayangan menyejukkan. Sebaliknya siaran langsung tawuran, pengepungan, reality show yang senada, rekonstruksi pembunuhan dan tindakan kriminal lainnya sekarang menjadi tayangan favorit dan ber-rating tinggi. Saya berandai-andai, jika tindakan kriminal pembunuhan atau mutilasi bisa dibikin siaran langsung atau ada rekamannya mungkin saja akan ditayangkan. Negeri yang mengerikan *bergidik*.
Akerlof, Stigler, Stiglitz yang banyak menulis tentang teori informasi ekonomi dalam new Institutional economics sedikitnya pernah bilang bahwa information economy menjadi media penting untuk akselerasi dari proses transformasi ekonomi, sosial, budaya, dan sistem politik. Informasi mempengaruhi ekonomi dan keputusan2 ekonomi. Mudah diciptakan tapi sulit untuk dipercaya. Mudah disebarkan namun susah mengontrolnya. Implikasinya berantai dan sistemik. Menariknya Birchler dan Vutler pernah bilang bahwa informasi adalah barang ekonomi yang paling dicari. Economics is about information, monopoli akan langgeng jika informasi sepenuhnya dapat dikuasai. Informasi adalah strategi dimana kita bisa bermain2 dengannya hingga tujuan ekonomi kita tercapai *kembali bergidik*.
Saya tidak tahu kita ini sedang menuju kemana, atau mau dibawa kemana oleh media kita. Saya cuman mencoba memahami “what, how, and for whom” the economy produces. Kebebasan bermedia hendaknya juga diimbangi dengan "ROSO" tanggungjawab untuk membuat penikmat media kita menjadi lebih pintar, cerdas, dan bersemangat. Bukan sebaliknya. Itu mimpi saya untuk "JOYO". Yang pasti seperti Samuelsen pernah mengingatkan sebelumnya bahwa semuanya tak lepas dari economics thinking. Jadi berhentilah bermimpi dan berharap, lho kok jadi sinis, hehe. Eniwei, tetap semangat untuk media nasional yang lebih baik dan mencerdaskan!
<< Home